Selasa, 08 Mei 2012

Tentang saya



Mini Autobiografi

Life for freedom and let the people free, because world is OUR own, not MINE or YOURS.”
Manusia tercipta dengan potensi yang sama, hanya saja orang yang lebih maju memanfaatkan potensi mereka secara potensial..
JIBRILIANTIN AGNI AFTONNISA, nama yang tertera dalam akte kelahiran, ijazah, KTP milik saya. Nama tersebut lahir dari pemikiran seorang Ayah bernama Aa Hikmat serta pendamping hidup setianya Yulia Herlina. Sedikit bersyukur nama ini tidak pasaran di kalangan manusia dan sedikit terbebani juga karena nama ini masyhur di kalangan malaikat (paling tidak sering berada di posisi pertama dalam list nama-nama malaikat yang dipelajari manusia). Hal yang  tidak saya ingat ialah saat-saat saya dilahirkan, tapi menurut My Mom, saya lahir tanggal 20 Oktober 1991 di Karawang. Mungkin ini salah satu fungsi orang tua; ‘mengingatkan anaknya apa yang tidak diingatnya’.  Masa kecil dihabiskan di Karawang, tapi menjelang saya masuk TK, kami sekeluarga pindah ke Garut karena alasan pekerjaan orang tua. Mirip dengan konsep hijrah Nabi yang hijrah dari Mekah (tempatnya orang jahiiyah) ke Madinah (tempat di mana Nabi bisa membangun peradaban Islam yang lebih baik), keluarga saya juga pindah dari Karawang (pusatnya saweran sinden goyang karawang) ke Garut (Insyaallah tempat yang lebih baik). My Dad sering berkata “kalo terus di Karawang bisa-bisa kamu jadi sinden, buktinya di Garut sekarang kamu jadi santri”. Saya percaya bahwa setiap manusia harus berpindah menjadi pribadi yang lebih baik agar bisa kembali pada yang Maha Baik.
SD Kota Kulon 1 merupakan tempat saya menghabiskan 6 tahun masa kecil saya. Berkesan sekali karena justru diri saya yang sejati tergambar dalam potret masa kecil anak SD karena anak kecil tidak pernah berusaha menjadi orang lain tetapi selalu menjadi dirinya sendiri, sifat polos, ingin tahu, nakal, menangis depan umum, bertengkar dengan teman namun satu jam kemudian bermain bersama lagi, semua perbuatannya adalah pancaran dirinya, pure face.. without mask!. Seingat saya prestasi akademik periode Sekolah Dasar terbilang buruk. Ketika kelas 1 hingga kelas 3 SD, saya selalu menjadi murid dengan peringkat 3 besar tiap semesternya. Menginjak kelas 4 prestasi saya menurun drastis, saya masuk peringkat 15 besar kemudian dari kelas 5 hingga 6 masuk peringkat 10 besar. Saya juga tidak begitu mengerti mengapa presatasi saya bisa menurun seperti itu, yang saya ingat memang ketika kelas 1-3 SD, saya merupakan anak yang sangat disenangi oleh teman-teman, rajin, ikhlas, tidak banyak bicara, dsb.
Setelah kelulusan SD saya memutuskan melanjutkan pendidikan ke Pesantren Darul Arqam, kebetulan kakak saya, Marella juga bersekolah di sana. Karena pada hakikatnya saya merupakan orang yang sulit bersosialisasi dengan orang yang baru kenal, pertama kali masuk DA (nickname pesantren) saya kesulitan mendapat teman dekat padahal orang-orang di sana semuanya ramah, hanya saja saya yang terlalu membentengi diri. Tapi lama kelamaan saya bisa menjadi dekat dengan mereka bahkan sangat dekat seperti saudara..
               Tiga tahun di DA sudah terlewati, entah mengapa saya tidak keberatan untuk melanjutkan jenjang Aliyah di DA tercinta. Walaupun kehidupan di DA kami lewati dengan keluh kesah karena kangen rumah, peraturan yang ketat, setiap hari harus bangun di subuh hari yang dingin, sekolah subuh dan selesai di malam hari, tapi kami menjalaninya dengan ikhlas dan gembira karena kami menjalaninya bersama-sama. Pada akhirnya saya menghabiskan 6 tahun berkesan dan berharga di DA. Sedih rasanya harus berpisah dengan teman terhebat yang pernah saya miliki. But life must go on somehow
Masa-masa pencarian universitas merupakan bulan yang paling menyedihkan dalam pengalaman saya. Saya terombang-ambing dalam berbagai pertimbangan di antara sejumlah list perguruan tinggi yang semuanya memuakkan. Saya filter menjadi universitas yang menyediakan program beasiswa saja. Ketika itu niat saya adalah kuliah tanpa dibiayai orang tua, namun dari sekian program beasiswa yang diikuti tak ada satupun yang berhasil ditembus. Dan akhirnya dengan berat hati saya masuk UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Jujur saya mewek-mewek di minggu-minggu pertama perkuliahan di kampus UIN. Tapi beruntungnya, teman-teman di UIN merupakan teman yang baik-baik tidak individualis seperti di kampus-kampus biasanya. Saya juga terbantu dengan tinggal di kosan bersama teman dari DA. Inna ma’al ‘usri yusro..[1]
Pertama masuk kuliah saya memutuskan untuk menjadi orang yang tidak banyak bicara. Hingga kini di kampus, saya termasuk orang yang lebih senang diam, berbeda dengan ketika saya bergaul dengan teman DA dan keluarga. Bukannya saya memarjinalkan teman di kampus, tapi saya hanya ingin menjadi lebih dewasa dalam menyikapi pergaulan dan lebih berhati-hati dalam berbicara, setidaknya sekarang saya termasuk mahasiswi dengan prestasi akademik yang lumayan di kelas.
Karena saya menjalani perkuliahan dengan santai dan kebetulan juga saya tidak tertarik dengan organisasi kampus, saya memiliki banyak waktu luang untuk merenungi kehidupan saya. Merasa kurang sreg di UIN, saya mencoba apply ke universitas lain jalur beasiswa tapi gagal. Kemudian karena sejak dahulu memang ingin pergi ke luar negri, bukan berarti saya menganggap rumput tetangga lebih hijau, tapi logikanya bagaimana saya bisa tahu bahwa rumput saya hijau jika saya tidak pernah melihat rumput milik tetangga seperti apa, maka pada semester 3 kemarin saya mencoba apply program short courses ke Maroko dan ini merupakan kegagalan kedua untuk program luar negri setelah dulu gagal masuk program beasiswa ke Malaysia. Program Maroko ini yang paling membuat saya miris, bahkan sempat marah pada Tuhan karena tidak pernah menggapai tangan saya untuk sekali saja dalam hidup saya. Saya merasa sudah cukup maksimal ketika apply ke Maroko, selain karena essay saya jauh lebih baik dari essay/konsep untuk program beasiswa sebelumnya yang sudah saya review kembali, namun pada akhirnya tetap gagal.
Mau tidak mau saya melanjutkan hidup di UIN, masih belum mencoba menyibukkan diri dalam organisasi kampus, paling-paling organisasi yang ditekuni sampai sekarang ialah Peace Generation. Ukuran ideal organisasi yang saya inginkan memang seperti itu, penuh dengan perbedaan (karena pesertanya lintas kota, lintas agama bahkan dari lintas negara), open minded adalah kunci masuk program ini, setidaknya dari organisasi ini saya belajar mencintai perbedaan, menghargai hidup orang lain sebagaimana hidup kita ingin dihargai, tidak pernah menilai seseorang dari luarannya, dan yang paling penting menciptakan dunia yang penuh kedamaian, aman, nyaman, hangat, kemanapun dan kapanpun kita dapat melangkahkan kaki kita tanpa ragu sedikitpun.
Sampai saat ini saya belum menemukan jati diri serta pola hidup ideal yang diinginkan. Tapi kemarin saya baru saja mengalami awal titik nadir dalam hidup saya, yang akhirnya membuat saya bertambah yakin akan Tuhan, yakin akan Rasul-Nya, yakin akan kekuatan hebat manusia yang tertanam dalam diri mereka,  yakin bahwa setiap manusia berhak dihargai dan wajib menghargai sesamanya.
Nowadays...
 I’m still searching to find out the real Me! 
Try to living my life enjoy and happy..  let my mind to be widely opened..  seeking advice and valuable moment from everyone I met, learn from everything that I’ve done both wrong and right.. looking for something new, new experience, new people, new excitement, newest news, and knew everything that’s happens in all over the world.  
Hope God always blessed us whenever and wherever we are.

Bandung, Februari 2012
With regards,


Jebe,
-a brand new world seeker



[1] Q.S Al-Insyirah : 6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar