Ketika itu usiaku masih sangat kecil, aku dan keluarga baru
beberapa tahun tinggal di rumah baru kami di Margawati, Garut. Saat itu di
rumah kami belum tersedia air bersih. Sehingga untuk kebutuhan air sehari-hari
kami menggunakan air kolam yang diendapkan terlebih dahulu. Sedangkan untuk
keperluan minum dan masak kami harus mencari air yang lebih bersih lagi, saat
itu air yang bersih dan gratis bisa kami dapatkan di masjid.
Jarak masjid dari rumah kami cukup jauh, sehingga untuk
membawa air tersebut kami memerlukan sepeda sebagai kendaraan pembantu. Setiap
hari, sehabis salat maghrib aku, papah dan kakaku bersiap untuk pergi ke
masjid. Entah mengapa walaupun suasana malam begitu dingin namun perasaanku
begitu hangat, aku gembira bisa ikut membantu papah untuk membawa air ke
masjid. Terkadang papah tak lupa mengingatkan mama untuk menyiapkan jerigen
besar guna mengambil air sebelum kami pergi.
Kami bertiga, mendorong sepeda tersebut bersama-sama sambil
bercanda dan mengobrol sehingga perjalanan ke masjid menjadi tak terasa.
Sesampainya di sana kami mulai mengisi jerigen kami dengan air yang mengalir
dari keran tempat wudhu di masjid, seringkali orang setempat berlalu lalang
masuk-keluar masjid sembari tak lupa menyapa kami. Setelah jerigen kami terisi
penuh, kami pun tepatnya ayahku menyimpan jerigen berat berisi air tersebut ke
atas dudukan sepeda.
Tak jarang pula aku dan kakaku harus menunggu papah selesai
salat isya dulu di masjid sebelui pulang. Aku dan kakaku hanya duduk di
luar sembari menjaga jerigen yang sudah penuh terisi air tersebut. Setelah
papah selesai salat kami pun langsung pulang dengan mendorong sepeda tersebut
bersama-sama.
Kini aku sudah dewasa, di rumah kami pun sudah tersedia air
bersih yang melimpah yang bisa didapat dengan satu kali putaran keran saja. Aku
berharap adik-adiku yang manja ini dapat mensyukuri keadaan mereka sekarang,
yang hidup sudah lebih mudah dari masa kecilku. Selama ini mereka selalu
menyangka bahwa kami sebagai yang lebih tua hobi menyuruh pada yang lebih muda.
Ubahlah pikiran kalian sekarang. Kami selalu mencintai kalian dengan setulus
hati.
Sepeda itu kini
menjadi saksi kerja keras papah demi keluarga, hingga kini pun terus begitu
papah selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Terima kasih
pah, semoga kami bisa menjadi anak yang dapat membagakanmu kelak.