Review: The Ides of March
The Ides of March merupakan film bertema thriller politik
yang mengisahkan bagaimana seluk beluk strategi kampanye serta politik hitam
dari partai politik menjelang pemilu di Amerika Serikat. Berbeda dengan di
Indonesia, di US pemilu yang dilaksanakan cenderung rumit dan memakan waktu
serta biaya yang besar. Juga di Indonesia kita memiliki banyak sekali partai
sampai puluhan partai dari mulai yang tidak famous
sampai yang the most famous. Tapi di US hanya ada dua partai besar yaitu partai
republik dan demokrat.
Adapun film ini menggambarkan kemelut politik menjelang
pemilu dari partai demokrat, yang calonnya bernama Mike Morris. Untuk
menandingi calon dari partai republik tentulah partai demokrat memerlukan
strategi serta tim sukses yang handal untuk menangani kampanye guna suksesnya
pemilu. Walaupun pada hakikatnya banyaknya ketertarikan massa terhadap calon
tidak menjamin menangnya suatu partai, karena berbeda dengan di Indonesia yang
setiap kepala berhak menyumbangkan satu suara— tapi di US pemberian suara
diberikan oleh dewan pemilih yang merupakan wakil dari tiap daerah. Oleh karena
itu baik Morris maupun Pullman (wakil partai republik) saling berebut
kepercayaan dari dewan perwakilan agar memberikan delegasinya.
Dalam film ini, pihak demokrat mempunyai dukungan dari media
massa serta tim sukses yang digawangi oleh Paul dan Stephen, manajer kampanye
muda yang pintar. Kesan saya dapatkan setelah menonton film ini ialah calon
dari partai demokrat, Mike Morris ini merupakan orang yang bisa dibilang
mewakili kepentingan setiap umat manusia, tidak memihak pada suatu klan, ras,
agama dsb. Dia sangat menjunjung tinggi persamaan hak umat manusia, menolak
adanya sistem dinasti/nepotisme dalam bentuk apapun dan ingin menjalankan
pemerintahan yang bersih. Hal ini juga
yang menimbulkan sense di hati Stephen,
dia bilang “inilah pemimpin yang dapat merubah dunia” saat meyakinkan rekannya,
Ida dari media massa Times.
Di tubuh partai demokrat sendiri, tarik ulur kekuasaan
dipegang oleh sekiranya 4 orang komunikator politik yaitu Mike Morris sebagai
calon presiden yang ternyata memiliki rahasia besar yang bisa melemahkan
kewenangannya, Paul seorang atasan manajer kampanye yang sudah berpengalaman
sekaligus menjunjung tinggi loyalitas, Stephen sebagai bawahan dari Paul
seorang manajer kampanye muda yang sangat berkharisma dan penuh strategi,
terakhir dari media massa Times yang
diwakili oleh Ida seorang jurnalis yang merupakan teman dari Stephen dan
cenderung pro terhadap kampanye Morris.
Masalah mulai muncul ketika Stephen bertemu dengan Tom Duffy
yang merupakan orang dari tim sukses partai republik yang dengan sengaja
menawari Stephen untuk bergabung dengannya dan membeberkan strategi kampanye
miliknya. Sayangnya Stephen tidak memberitahukan kepada Paul perihal pertemuan
mereka, sehingga ketika masalah mulai muncul dan Paul mengetahui
ketidak-loyal-an Stephen, dia merasa kecewa. Pada akhirnya satu-satunya jalan
agar Morris bisa unggul di Ohio (yang merupakan suara penentu) ialah dengan
menjanjikan posisi tinggi bagi Frank Thompson, seorang dewan pemilih agar mau
memberikan delegasinya.
Klimaks dari film ini ialah ketika Morris
bersikeras pada prinsipnya untuk menjalankan white politic, Times
sebagai media massa yang senantiasa mendukung kampanye Morris merasa dibohongi
ketika mengetahui bahwa Stephen sempat main belakang dengan Duffy, dan Paul
yang berusaha mengeluarkan Stephen dari kantornya, serta Stephen yang bisa
dibilang bak telur di ujung tanduk.
Namun nasib berkata lain, matinya
Molly—kekasih dari Stephen—yang mengetahui rahasia besar milik Morris menjadi
batu loncatan bagi Stephen. Dengan
rahasia besar milik Morris, Stephen mengancam Morris agar –jika ingin segala sesuatunya
aman baik rahasianya maupun kampanyenya— pecat Paul dan kedudukannya diganti
oleh Stephen.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Morris angkat tangan
pada Stephen. Paul dipecat, Stephen menjadi manajer kampanye Morris, media
massa tidak mengincar Stephen lagi, dan Morris tetap menjalankan kampanyenya di
bawah strategi dari Stephen karena nasibnya
kini ada di tangan Stephen.
Bagaimanapun dalam dunia politik segala hal bisa terjadi.
Kepercayaan, konspirasi dan kekuasaan bisa berpindah dari satu tangan
komunikator politik ke tangan lainnya dalam waktu dan langkah yang tidak
terduga..
-Jebe,
tugas Komunikasi Politik
Bandung, 3/7/12
tugas Komunikasi Politik
Bandung, 3/7/12