Rabu, 07 Maret 2012

Movie Review : The Ides of March


Review: The Ides of March
        The Ides of March merupakan film bertema thriller politik yang mengisahkan bagaimana seluk beluk strategi kampanye serta politik hitam dari partai politik menjelang pemilu di Amerika Serikat. Berbeda dengan di Indonesia, di US pemilu yang dilaksanakan cenderung rumit dan memakan waktu serta biaya yang besar. Juga di Indonesia kita memiliki banyak sekali partai sampai puluhan partai dari mulai yang tidak famous sampai yang the most famous. Tapi di US hanya ada dua partai besar yaitu partai republik dan demokrat.
        Adapun film ini menggambarkan kemelut politik menjelang pemilu dari partai demokrat, yang calonnya bernama Mike Morris. Untuk menandingi calon dari partai republik tentulah partai demokrat memerlukan strategi serta tim sukses yang handal untuk menangani kampanye guna suksesnya pemilu. Walaupun pada hakikatnya banyaknya ketertarikan massa terhadap calon tidak menjamin menangnya suatu partai, karena berbeda dengan di Indonesia yang setiap kepala berhak menyumbangkan satu suara— tapi di US pemberian suara diberikan oleh dewan pemilih yang merupakan wakil dari tiap daerah. Oleh karena itu baik Morris maupun Pullman (wakil partai republik) saling berebut kepercayaan dari dewan perwakilan agar memberikan delegasinya.
         Dalam film ini, pihak demokrat mempunyai dukungan dari media massa serta tim sukses yang digawangi oleh Paul dan Stephen, manajer kampanye muda yang pintar. Kesan saya dapatkan setelah menonton film ini ialah calon dari partai demokrat, Mike Morris ini merupakan orang yang bisa dibilang mewakili kepentingan setiap umat manusia, tidak memihak pada suatu klan, ras, agama dsb. Dia sangat menjunjung tinggi persamaan hak umat manusia, menolak adanya sistem dinasti/nepotisme dalam bentuk apapun dan ingin menjalankan pemerintahan  yang bersih. Hal ini juga yang menimbulkan sense di hati Stephen, dia bilang “inilah pemimpin yang dapat merubah dunia” saat meyakinkan rekannya, Ida dari media massa Times.
        Di tubuh partai demokrat sendiri, tarik ulur kekuasaan dipegang oleh sekiranya 4 orang komunikator politik yaitu Mike Morris sebagai calon presiden yang ternyata memiliki rahasia besar yang bisa melemahkan kewenangannya, Paul seorang atasan manajer kampanye yang sudah berpengalaman sekaligus menjunjung tinggi loyalitas, Stephen sebagai bawahan dari Paul seorang manajer kampanye muda yang sangat berkharisma dan penuh strategi, terakhir dari media massa Times yang diwakili oleh Ida seorang jurnalis yang merupakan teman dari Stephen dan cenderung pro terhadap kampanye Morris.
       Masalah mulai muncul ketika Stephen bertemu dengan Tom Duffy yang merupakan orang dari tim sukses partai republik yang dengan sengaja menawari Stephen untuk bergabung dengannya dan membeberkan strategi kampanye miliknya. Sayangnya Stephen tidak memberitahukan kepada Paul perihal pertemuan mereka, sehingga ketika masalah mulai muncul dan Paul mengetahui ketidak-loyal-an Stephen, dia merasa kecewa. Pada akhirnya satu-satunya jalan agar Morris bisa unggul di Ohio (yang merupakan suara penentu) ialah dengan menjanjikan posisi tinggi bagi Frank Thompson, seorang dewan pemilih agar mau memberikan delegasinya.
      Klimaks dari film ini ialah ketika Morris bersikeras pada prinsipnya untuk menjalankan white politic, Times sebagai media massa yang senantiasa mendukung kampanye Morris merasa dibohongi ketika mengetahui bahwa Stephen sempat main belakang dengan Duffy, dan Paul yang berusaha mengeluarkan Stephen dari kantornya, serta Stephen yang bisa dibilang bak telur di ujung tanduk.
Namun nasib berkata lain, matinya Molly—kekasih dari Stephen—yang mengetahui rahasia besar milik Morris menjadi batu loncatan bagi Stephen.  Dengan rahasia besar milik Morris, Stephen mengancam Morris agar –jika ingin segala sesuatunya aman baik rahasianya maupun kampanyenya— pecat Paul dan kedudukannya diganti oleh Stephen.
      Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Morris angkat tangan pada Stephen. Paul dipecat, Stephen menjadi manajer kampanye Morris, media massa tidak mengincar Stephen lagi, dan Morris tetap menjalankan kampanyenya di bawah strategi dari Stephen karena nasibnya  kini ada di tangan Stephen.

Bagaimanapun dalam dunia politik segala hal bisa terjadi. Kepercayaan, konspirasi dan kekuasaan bisa berpindah dari satu tangan komunikator politik ke tangan lainnya dalam waktu dan langkah yang tidak terduga..

-Jebe,
tugas Komunikasi Politik
Bandung, 3/7/12